Oleh Aris Priyono
Alkisah, di laut terdalam, tinggallah raja Gurita yang kaya raya. Sebagai penguasa lautan, dia memiliki kekayaan melimpah berupa harta karun emas. Namun karena kekayaannya, dia menjadi tamak bahkan tak segan menghukum rakyat yang menentangnya, dengan menyiksanya di ruang bawah tanah.
Raja Gurita berukuran raksasa, hampir selapangan bola. Untuk itulah, dia sangat ditakuti rakyatnya. Sang Permaisuri sering mengingatkan, agar dia tak menjadi raja jahat. Namun dengan congkaknya, dia berkata, "Tak ada rakyatku yang berani menentangku. Akulah penguasa kerajaan laut yang tak ada duanya."
Pada suatu hari, hulu balang istana menghadap tergesa, membawa tawanan yang diduga pencuri emas.
“Siapa namamu?”
“Nama saya Bakau, Raja,” jawabnya gemetar.
“Jadi, kamu yang mencuri emas-emasku!” tuduh sang Raja.
“Bukan Raja. Bukan saya. Kebetulan, saya hanya lewat mencari anak saya.”
“Bohong. Pengawal, hukum mati dia di penjara bawah tanah!”
“Ampun, Raja.” Tumbuhan mangrove tua itu, diseret paksa ke ruang bawah tanah, tanpa pembelaan.